Prinsip-Prinsip Tawakkal


Saat ini adalah hari-hari penantian yang cukup menggelisahkan bagi para alumni SMU yang mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB), perasaan yang sama dialami pula oleh para orang tua mereka. “Diterima nggak ya ?” Itulah yang berkecambuk dalam pikiran mereka. Sangatlah wajar kegelisahan itu terjadi, mengingat persaingan untuk bisa masuk ke perguruan tinggi yang diidamkan begitu ketatnya.

Supaya kegelisahan itu berkurang, kita dianjurkan untuk bertawakkal pada Allah SWT dalam meraih suatu cita-cita. Seorang muslim harus punya cita-cita yang tinggi dan harus bekerja keras untuk bisa mewujudkannya. Faidza ‘azamta fa tawakkal ‘alaLlah (Apabila kamu punya cita-cita, maka tawakkallah pada Allah). Demikian firman-Nya.

Islam mengajarkan kita untuk menyertakan Tawakkal Principles (prinsip-prinsip tawakkal) dalam proses pencapaian suatu cita-cita. Suatu aktifitas dan kreatifitas bisa dikategorikan menggunakan Tawakkal Principles apabila mengandung empat unsur, yaitu:

1. Mujahadah
Mujahadah diambil dari kata Jahada, artinya sungguh-sungguh. Allah SWT memerintahkan agar kita sungguh-sungguh dalam melakukan suatu pekerjaaan, jangan asal-asalan. Kalau kita menjadi mahasiswa, belajarlah sungguh-sungguh dan selesaikan kuliah tepat waktu. Kalau kita menjadi padagang, berikan pelayanan dan produk terbaik agar pelanggan ketagihan menggunakan produk yang kita jual. Kalau kita menjadi karyawan, selesaikan pekerjaan sesuai target agar pihak manajemen menilai positif cara kerja kita, dll. Ini semuanya dikategorikan mujahadah.

Mujahadah, selain bermakna sungguh-sungguh, juga bermakna sistematis. Suatu pekerjaan hasilnya akan menggembirakan apabila dilakukan dengan kesungguhan dan sistematis. Allah SWT sangat menyukai orang yang bekerja secara rapih dan sistematis.

”Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh”. (QS. Ash-shaff 61:4). Makna ayat ini tidak terbatas saat berperang saja, tapi juga dalam melakukan kegiatan apapun yang bertujuan untuk kebaikan. Kita wajib melakukannya secara rapi, teratur dan sistematis.

Kalau suatu target sudah bisa kita capai, maka jangan berpangku tangan, berhenti dari aktifitas, tapi lakukan aktifitas lainnya secara sungguh-sungguh dan sistemik serta landasi seluruh aktifitas kita dengan hanya mengharap Ridha Allah SWT.

“Maka apabila kamu telah selesai dari sesuatu pekerjaan/urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Aysarh 93:7-8)

2. Do’a
Allah SWT memiliki kekuasaan tak terhingga, sedangkan kita memiliki kelemahan tak terhingga. Karena itu, walaupun sudah melakukan mujahadah, kita harus memohon kekuatan dari Allah SWT agar pekerjaan bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang selalu berdo’a memohon pertolongan-Nya. Apabila kita selalu membarengi aktifitas dengan do’a berarti kita selalu mengingat-Nya, maka Allah pun akan menolong kita, dan kalau kita melupakan-Nya, Dia pun akan melupakan kita.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (QS. Al-Baqarah 2:152)

3. Syukur
Apabila mujahadah dan do’a menyertai seluruh aktifitas dan kreatifitas kita, Insya Allah kesuksesan yang kita raih akan mengantarkan pada rasa syukur. Prinsip ini perlu kita pegang karena kesuksesan sering mengantarkan manusia pada keangkuhan, padahal angkuh adalah sifat yang paling dimurkai Allah swt. Apabila kita pandai bersyukur, Allah swt. akan semakin menambah nikmat-Nya.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya adzabku amat pedih.” (Q.S.Ibrahim 14: 7)

4. Sabar
Sabar artinya tahan uji menghadapi berbagai cobaan. Mungkin saja kita telah bekerja keras, sitematis, dan disertai do’a, namun bisa jadi hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Nah, sabar adalah obatnya. Sabar bukan diam dan meratapi kegagalan, tetapi sabar adalah mengintrospeksi diri dan bekerja lebih baik lagi agar kegagalan tidak terulang kembali. “Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah mawas diri…” (Q.S.Ali Imran 3 :200)

Inilah prinsip-prinsip tawakkal yang harus melandasi seluruh aktifitas dan kreatifitas kita dalam mewujudkan cita-cita. Fakta menunjukkan bahwa orang-orang besar selalu punya cita-cita yang tinggi, maka bentangkankan cita-cita kita setinggi langit dan tapaki langkah demi langkah dengan prinsip-prinsip tawakkal. Insya Allah, Dzat yang Maha Agung dan Maha Kuasa akan mengabulkan apa yang menjadi cita-cita kita.
Amien….!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s